CERPEN GUS MUS
BIDADARI ITU DIBAWA JIBRIL
BY GUS MUS
Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun
sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari
keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya
terhadap agama seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha,
dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah
di perguruan tinggi. Ketika diperguruan tinggi dia justru seperti mendapat
kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Dalam soal
syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang
semangat-semangatnya berislam ria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat
sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur
terang-terangan.
Bila dia melihat kawan perempuannya yang
muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya,
langsung dia akan menyemprot nyadengan lugas. Dia pernah menegur dosennya yang
dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri,
"Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal
tayammun;" katanya,
"Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan
sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!"
Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena
merokok.
"Merokok itu salah satu senjata setan untuk
menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak
pantas mencontohkan hal buruk seperti itu."
Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya
yang memelihara anjing.
"Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing
itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada
anjingnya!"
Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara
tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal
kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak
dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng
luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan
yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau
bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai
demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai
tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya
berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara
murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan
besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang
penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf
nahi mungkar di manapun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng
dari rel agama. Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan
bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fisabilillah.
Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.
Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya
kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak
berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun
sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan
kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar
makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi
insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.
***
Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar
Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi.
Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku
sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau
tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika
Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.
Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan. Setelah
saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang,
"Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun
sekarang punya syeikh baru lo?"
"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang
suka berkelakar.
"Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti
enggak percaya."
"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin
tahu.
"Jibril, mas. Malaikat Jibril!"
"Jibril?" aku tak bisa menahan
tertawaku. Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang
bercanda atau tidak.
"Jangan ketawa! Ini serius!" Katanya,
"bagaimana rupanya?" aku masih kurang
percaya.
"Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya,
Jibril itu humoris seperti Sampeyan." Saya ngakak. Tetapi, di seberang
sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku.
"Bagaimana ceritanya, mas?"
"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan
ditempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif;
pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apalagi. Nah, lama-lama
gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang
langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya
dipinjam mulutnya. "
"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu
malaikat Jibril?"
"Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang
mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu,
menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin
bisa dilakukan oleh manusia."
"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan
hal seperti itu, mas!" selaku,
"Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir
Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai
Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah
berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang
tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya."
"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak
orang pintarnya lo."
"Wah."
Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji
dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun. Aku
membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan
agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut
banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah
yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.
Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi
dari sahabatku Mas Danu. Kali ini,dia bercerita tentang istrinya dengan nada
seperti khawatir.
"Wah, mas; Hindun baru saja membakar
diri."
"Apa, mas?" aku terkejut setengah mati,
"membakar diri bagaimana?"
"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu
mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa.
Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya."
"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku
khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luarnegeri pernah terjadi jemaah
yang diajak guru mereka bunuh diri.
"Yang
lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan,
"gurunya itu yang paling banyak terbakar
bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya,
mas?!" Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon.
"Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di
seberang menutup pembicaraan. Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi,
menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh
Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat,
tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini. "Pernah pulang
sebentar, mas" kata Mas Danu ditelepon, "dan Sampeyan tahu apa yang
dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"
***
Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi.
Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada
hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat:
"Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam.
Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu)."
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas
Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa
menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan
"masya Allah."
***
Rembang,
Akhir Ramadan 1423 Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September2003
Komentar
Posting Komentar